TEORI KONSUMSI (BAGIAN II)


 
MAKALAH
ILMU EKONOMI MIKRO ISLAM

TENTANG:
TEORI KONSUMSI


OLEH
RISKA OKTA VADILA
1730403084


DOSEN PENGAMPU:
DR. H. SYUKRI ISKA, M.Ag
IFELDA NENGSIH, SEI., MA


JURUSAN AKUNTANSI SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
BATUSANGKAR
2018 M / 1439 H







BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Tabungan sendiri tidaklah menyebabkan terjadinya penanaman modal atau investasi. Tabungan dilakukan oleh masing-masing dengan tujuan berbeda-beda dan dikerjakan oleh orang-orang yang tidak saman pula.
Kata investment diterjemahan sebagian investasi ini, ke dalam bahasa Indonesia, yaitu penanaman modal. Bersama-sama kdengan konsumsi, investasi telah membentuk sebuah atau sebentuk perekonomian dua sektor dimana campur tangan pemerintahan maupun hubungan luar negeri tidak ada. 


B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan konsumsi total  dan pendapatan dalam ekonomi Islam?
2.      Apa yang dimaksud dengan tabungan dan investasi diantara konsumsi dalam konsep ekonomi Islam?
3.      Bagaimana efek pendapatan dan penggantian terhadap kepuasan (kurva)?

C.    Tujuan
1.      Mampu menjelaskan pengertian konsumsi total  dan pendapatan dalam ekonomi Islam.
2.      Mampu menjelaskan tentang tabungan dan investasi diantara konsumsi dalam konsep ekonomi Islam.
3.      Mampu menjelaskan tentang efek pendapatan dan penggantian terhadap kepuasan (kurva).






BAB II
PEMBAHASAN

A.    Konsumsi Total dan Pendapatan dalam Ekonomi Islam
  Untuk melihat hubungan antara tabungan dan konsumsi akhir, kita akan melihatnya pada konsumsi akhir dalam periode pertama dan periode kedua. Total konsumsi akhir pada dua periode tersebut adalah konsumsi akhir periode pertama ditambah konsumsi akhir periode kedua. Secara sistematis dinotasikan:
FS = FS(t=1) + FS(t=2)
Dengan : FS(t=1) = Y – S
                 FS(t=2) = S - Sz
Karena S = Sy, maka dapat dinotasikan:
FS = (Y – S) + (S – zS)
 = (Y – sY) + (Sy – zsY)
             = Y (1 – zs)
                    
Konsep pendapatan permanen sangatlah peting, karena konsep ini memberikan kesan bahwa konsumen tidaklah menanggapi semua gejolak pendapatan dengan cara yang sama. Bila perubahan pendapatan tampak akan bersifat permanen misalnya kenaikan gaji periodik atau kenaikan pangkat dengan gaji yang lebih tinggi, maka konsumen akan menambah konsumsi seirama dengan kenaikan pendapatan. Sebaliknya bila perubahan pendapatan jelas hanya sementara atau sesaat saja  misalnya bonus tahunan atau tunjangan hari raya, maka tingkat kecendrungan mengkonsumsi marginal (mpc) mungkin akan sangat rendah. Jadi, harapan mengenai sifat gejolak  pendapatan  (seperti iklim yang sangat berpengaruh pada bisnis petanian, apakah bersifat tetap atau sementara), dapat memiliki dampak yang besar pada kecendrungan mengkonsumsi marginal.
Pendapatan yang akan terjadi terhadap permintaan anda akan es krim jika Anda kehilangan  perkerjaan anda? Kemungkinan besar, permintaan Anda terhadap es krim akan turun. Pendapatan yang lebih rendah berarti bahwa secara total anda memiliki uang yang lebih sedikit untuk dibelanjakan, sehingga anda akan membelanjakan lebih sedikit uang untuk beberapa  dan mungkin  pula terhadap sebagian besar barang. Jika permintaan terhadap sebuah barang berkurang ketika pendapatan berkurang, barang tersebut dinamakan barang normal. barang normal adalah sebuah barang yang jika pendapatan meningkat akan mendorong peningkatan terhadap permintaan barang tersebut, dengan menggangap hal lainnya tetap. (Samuelson, 1985 h. 169-171).
Seorang konsumsen akan sampai pada titik tertinggi mengkonsumsi suatu barang, apabila ia membelanjakan semua pendapatannya. Jadi, semakin besar pendapatan maka semakin tinggi tingkat mengkonsumsi, dan jika pendapatannya sedikit maka sedikit juga barang yang dapat dikonsumsi. Konsumsi total juga disebut dengan konsumsi akhir. Yaitu konsumsi periode pertama ditambah dengan konsumsi periode kedua.

B.     Tabungan dan Investasi Diantara Konsumsi Dalam Konsep Ekonomi Islam
1.      Tabungan
Apabila seseorang pendapatannya dari hasilnya bekerja, maka ia pun akan segera merencanakan untuk membelanjakan pendapatannya itu, setelah dikurangi dengan segala kewajibannya (seperti pajak, dan sebagainya). Jadi, pendapatan itu mestilah dikeluarkan atau dibelanjakan. Tidak ada seorang normal pun di dunia ini yang akan terus menyimpan pendapatannya.
Dalam pada itu, setiap pendapatan akan pertama-tama dikeluarkan untuk keperluan konsumsi, sedangkan sisanya  kalau memang masih ada bersisa, akan ditabung. Secara teknis, pernyataan tersebut dapat ditulis secara singkat sebagai berikut:
Y = C + S
Di mana: Y adalah pendapatan (income)
C adalah konsumsi (consumption)
S adalah tabungan (saving). (Rosyidi, 2003, h. 147).
Tabungan adalah bagian dari pendapatan yang disimpan atau tidak dibelanjakan. Tabungan disimbolkan dengan (S). Atau bisa juga disebutselisih langsung antara pendapatan nasional dengan konsumsi agregat (S = Y – C).
Persamaan di atas telah menunjukkan bahwa, tabungan adalah sama dengan pendapatan dikurangi konsumsi. Penghasilan yang diterima oleh suatu keluarga tidak selalu habis dibelanjakan untuk membeli barang-barang kebutuhan. Orang kaya dengan penghasilan yang tinggi akan menghabiskan seluruh penghasilannya untuk konsumsi (kecuali kalau kekayaannya itu diboroskan untuk cara hidup yang serba mewah). Akan tetapi orang-orang sederhanapun berusaha untuk menyisihkan sekadar uang agar kemudian hari bisa membeli barang-barang yang agak mahal. Bagian penghasilan yang tidak habis dibelanjakan untuk konsumsi disebut tabungan. Tabungan masyarakat ikut berpengaruh terhadap arus uang beredar terhadap investasi, produksi, dan permintaan, dan berperan dalam rangka stabilitas dan pembangunan ekonomi. (http://3.bp.blogspot.com/untitled.bmp).
2.      Investasi
Dari bahasa Inggris investment, maka terjemahan bagi investasi ini ke dalam bahasa Indonesia adalah “penanaman modal”. Bersama-sama dengan konsumsi, maka investasi telah membentuk sebuah atau sebentuk perekonomian di mana campur tangan pemerintah maupun hubungan luar negeri tidak ada. (Rosyidi, 2003, h. 166).
Tidak seperti tabungan dan konsumsi, investasi merupakan sebuah bisnis yang tidak dapat diprediksi dan beresiko, karena investasi tidak harus mengikuti pergerakan yang sama dengan produksi nasional bruto (GNP), beda halnya dengan pengeluaran konsumsi yang dapat mempengaruhi nilai produk nasional bruto (GNP).  Investasi merupakan aktivitas tersendiri dari sektor swasta dan sektor pemerintah.
Peristiwa di mana investasi tidak sejalan dengan laju pertumbuhan produk nasional bruto ditemukan pada saat terjadinya resesi dalam siklus ekonomi juga dalam perekonomian yang sedang mengalami inflasi. Jika nilai produk nasional bruto tetap tinggi dan tingkat suku bunga juga tinggi keadaan ini juga dapat mengurangi investasi.
Dengan mengkombinasikan semua faktor di atas yang memengaruhi permintaan investasi, kita dapat menghasilkan fungsi investasi dalam formasi:
I = I (i, r, Q, T)
Dengan, dI/di < 0; dI/dQ ≥ 0; dI/dT > 0; 
di mana:                               
I = tingkat investasi
i = tingkat suku bunga
r = tingkat pengembalian sebagai indikator dari keuntungan
Q= produk nasional bruto (GNP)
T= perubahan teknologi yang memengaruhi permintaan investasi
Keberadaan i menyebabkan ketidakpastian dalam semua variable, dalam fungsi di atas r mempunyai sifat acak dalam keberadaan i karena ketidakpastian yang disebabkan oleh harapan- harapan investor. Karenanya, Q tidak dapat mengikat selama masih terdapat kelambatan pada harapan-harapan investor. Juga karena penginvestasian kembali dari peningkatan Q tidak dapat direalisasikan, maka T mengalami kelambatan dan efek beruntun antara ketidakpastian yang disebabkan oleh i dan iklim ekonomi keseluruhan akan terbentuk.
Masuknya variable i ke dalam fungsi investasi didasarkan pada asumsi bahwa pengusaha meminjam kredit dari bank untuk melakukan investasi. Itu sebabnya pengusaha akan membandingkan apakah return r dari bisnisnya lebih tinggi dari  tingkat bunga i. Bila    r > i , maka ia akan melakukan investasi. Sebaliknya bila r < i , ia tidak akan melakukan investasi. Asumsi ini dapat dengan mudah kita ganti karena pada kenyataannya ada sumber dana lain untuk melakukan investasi. Bahkan kalaupun dengan sumber dana bank, saat ini ada perbankan syariah yang tidak menggunakan sistem bunga. (Karim, 2007, h. 294-295).

C.    Efek Pendapatan dan Penggantian terhadap Kepuasan (Kurva)

 Dapat diterangkan dengan menganalisis dua faktor yaitu efek pendapatan dan efek pengantian. Dengan menggunakan analisis kurva kepuasan sama, kedua faktor ini dapat dipisahkan yaitu: dapat ditunjukkan bagian dari pertambahan permintaan yang disebabkan oleh efek pengantian dan bagian dari pertambahan permintaan yang disebabkan oleh efek pendapatan. Pemecahan dapat dilakukan melalui 2 metode yakni: Metode Hicks dan Metode Slutsky. Menurut Metode Hicks, dapat disimpylakan bahwa efek subsitusi (penggantian) selalu positif, artinya penurunan harga akan diikuti dengan kenaikan jumlah yang dibeli, sedangkan efek pendapatan hanya positif untuk barang normal. Untuk barang inferior efek pendapatannya negatif, yang berarti respon konsumen untuk pembelian kecil atau menurun. (Sugiarto, 2000, h. 139).
Jika dilakukan perbandingan antara metode Hicks dan Slutsky, secara teoritis metode Hicks lebih baik dalam hal pengukuran efek subsitusi, dengan pertimbangan efek subsitusi mengukur efek pergerakan sepanjang kurva indiferen berkenaan dengan perubahan harga relatif. Tetapi masalahnya, secara operasional metode Hicks ‘sulit’ sedangkan metode Slutsky ‘mudah’ walaupun kurang kuat secara teoritis. (Sugiarto, 2000, h. 141).




BAB III
PENUTUP
 

A.  Kesimpulan
Tabungan sendiri tidaklah menyebabkan terjadinya penanaman modal atau investasi. Tabungan dilakukan oleh masing-masing dengan tujuan berbeda-beda dan dikerjakan oleh orang-orang yang tidak saman pula. investasi berarti penambahan barang-barang modal baru. Konsumsi di tambah investasi.
Dapat diterangkan dengan menganalisis dua faktor yaitu efek pendapatan dan efek pengantian. Dengan mengunakan analisis kurva kepuasan sama, kedua faktor ini dapat dipisahkan yaitu; dapat ditunjukkan bagian dari pertambahan permintaan yang disebabkan oleh efek pengantian dan bagian dari pertambahan permintaan yang disebabkan oleh efek pendapatan.







DAFTAR KEPUSTAKAAN
Karim, Adiwarman Azwar. 2002. Ekonomi Mikro Islami. Jakarta: IIIT Indonesia.
Karim, Adiwarman Azwar. 2007. Ekonomi Makro Islami. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Rosyidi, Suherman. 2003. Pengantar Teori Ekonomi (Pendekatan Teori Ekonomi Mikro & Makro). Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Samuelson. 1985. Ecoonomics. Jakarta: Erlangga.
Sugiarto, dkk. 2000. Ekonomi Mikro. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
                http://3.bp.blogspot.com/untitled.bmp.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEORI BIAYA PRODUKSI

TEORI BIAYA DAN PENERIMAAN

Pengertian dan Ruang Lingkup Ekonomi Mikro Islam